Jumat, 17 September 2010

WARISAN DARI BELANGA KUNINGAN

Kehidupan masyarakat Kerajaan Buton, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, pada masa abad ke-13 lekat dengan perabot rumah tangga yang terbuat dari kuningan. Kini, masih ada satu keluarga di Kota Bau-Bau yang memproduksi perabot tersebut secara tradisional dan turun-temurun.

Sarmin (32) adalah generasi keenam atau terakhir dari perajin perabot kuningan Buton. Bersama tiga saudara laki- lakinya, Sarmin membuka usaha kerajinan kuningan tradisional di Kampung Pimpi, Kelurahan Tanganapada, Kecamatan Murhum, Kota Bau-Bau.

Bengkel perabot kuningan milik Sarmin itu berupa bangunan dari kayu berukuran 8 meter x 5 meter. Di atas lantai tanah di bengkel itu puluhan cetakan belanga kuningan dari tanah liat ditata rapi. Di dekat pintu masuk bengkel terdapat gundukan tanah liat yang dibeli Sarmin dari Surabaya.

Tanah liat digunakan sebagai alat mencetak kuningan karena mudah dibuat dan dapat didaur ulang. Setelah kuningan cair mengering, cetakan tersebut dihancurkan dan tanahnya dapat digunakan lagi untuk membuat cetakan lainnya.

Pembuatan perabot kuningan dengan cara tradisional itu melalui beberapa proses, yaitu membuat cetakan, melebur bahan dari kuningan, mencetak kuningan, dan pembubutan (proses pelepasan kuningan dari cetakannya). ”Kami harus berbagi tugas agar pekerjaan cepat selesai,” kata Sarmin, pada Juni.

Ada dua cara proses membuat cetakan itu, yaitu menggunakan tangan atau alat cetakan dari aluminium. Jika memakai cetakan aluminium, prosesnya lebih cepat, tetapi bahan kuningan yang dicetak lebih tipis.

Namun, Sarmin mengatakan, permintaan belanga kuningan dengan teknik manual atau tangan lebih diminati. Belanga tersebut lebih tebal dan awet jika dipakai untuk memasak.

Biasanya, belanga tersebut digunakan untuk memasak kasuami atau makanan khas Bau- Bau yang terbuat dari singkong. Makanan tersebut sampai saat ini masih dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari warga.

Permintaan belanga tidak hanya datang dari daerah Pulau Buton, tetapi juga dari Maluku, Kalimantan, dan Irian. Dalam satu hari, Sarmin mampu menghasilkan belanga kuningan 2-3 buah. Dengan cetakan aluminium, jumlah belanga yang dihasilkan bisa 5 buah per hari. Rata-rata Sarmin memproduksi lebih dari 90 belanga per bulan.

Harga belanga yang dibuat dengan teknik manual Rp 225.000 per buah, sedangkan yang dibuat dengan cetakan aluminium Rp 200.000 per buah.

Dari harga tersebut, Sarmin mendapatkan keuntungan Rp 100.000 per belanga. Keuntungan itu harus dibagi-bagi dengan saudaranya yang ikut bekerja.

Sarmin mendapatkan keahlian membuat perabot kuningan itu dari Ayahnya, Baari Ompu, yang saat ini membuka usaha kerajinan kuningan di Kelurahan Lamangga, Kecamatan Murhum, Bau-Bau. Sejak 7 tahun lalu, Sarmin mulai membuka tempat usaha sendiri.

Menurut Sarmin, pekerjaan ini hanya dapat dilakukan kaum pria. ”Saya tidak tahu alasannya. Dulu orangtua selalu berpesan seperti itu,” kata Sarmin.

Saat ini Sarmin memiliki tiga putra, tetapi yang laki-laki hanya satu orang. Sarmin pun berharap anak laki-lakinya mau meneruskan pekerjaan ini. Sarmin mulai mengenalkan teknik membuat belanga kuningan itu kepada anaknya.

Ada keahlian yang perlu dipelajari dalam waktu lama. Karena itu, pekerjaan ini merupakan usaha turun-temurun.

Misalnya, dalam membuat belanga dengan teknik manual, cetakan dari tanah liat harus dibuat dalam ukuran yang sama. Di dalam cetakan terlebih dulu dilapisi lilin. Jika cetakan tanah liat sudah kering, cetakan tersebut bisa langsung dibakar sampai lilin di dalamnya hilang. Cetakan itu pun siap digunakan.

Jika dengan cetakan aluminium, Sarmin menggunakan kotak kayu yang dilengkapi engsel. Cetakan aluminium dimasukkan ke dalam kotak dan diisi tanah liat yang agak basah.

Tanah liat lantas dipadatkan dengan diinjak-injak. Setelah padat, kotak dibuka. Cetakan pun siap dijemur.

Sarmin membeli bahan kuningan dari para penjual logam di pasar di Kota Bau-Bau. Setiap kuningan dibeli Rp 40.000 per kilogram. Logam kuningan itu harus dilebur dulu.

Untuk satu belanga, ada tiga cetakan yang harus dibuat. Kuningan yang sudah tercetak pun nanti harus disambung dengan cara dilas. Belanga yang sudah tersambung tinggal diperhalus sehingga lebih mengilap.

Cuaca buruk juga menjadi kendala bagi Sarmin. Pada saat musim hujan seperti sekarang ini, cetakan tanah liat tidak dapat dijemur. Cetakan harus dijemur di dalam bengkel selama berhari-hari hingga kering.

Barang yang sudah siap dijual kemudian dipisahkan. Sarmin pun menunggu para penampung barang tersebut. Biasanya mereka datang ke bengkel dua kali dalam satu bulan. ”Jarang ada yang langsung beli di bengkel saya. Orang lebih banyak membeli di pasar,” kata Sarmin.

Perabot tradisional

Sarmin tak hanya memproduksi belanga untuk dipakai memasak. Pria yang sudah 15 tahun menjadi perajin kuningan ini juga memproduksi perabot yang digunakan untuk upacara tradisional adat Buton.

Perabot itu antara lain kapera atau lentera minyak, kanturuna wolio atau tempat ludah, dan talang atau meja untuk raja. Sarmin memproduksi perabot seperti itu jika ada pesanan.

Perabot tradisional itu dijual Rp 400.000 (kapera), Rp 600.000 (kanturuna wolio), dan Rp 1,5 juta-Rp 2 juta (talang). ”Tak hanya untuk upacara adat, tetapi juga dipesan sebagai barang seni,” kata Sarmin.

Sarmin juga membuat peralatan lain berbasis kuningan, seperti pembuatan hiasan interior dan eksterior rumah.

Meski sudah tujuh tahun membuka usaha ini dan memiliki pelanggan, Sarmin mengatakan tidak ada tetangga atau orang lain yang ikutan membuka usaha ini.

Bagi Sarmin, pekerjaan sebagai perajin kuningan tradisional ini merupakan tanggung jawab. Di Kota Bau-Bau hanya Sarmin yang mengerjakan belanga dan perabot tradisional kuningan.

Di dalam Benteng Keraton Wolio, ada beberapa perajin kuningan, tetapi mereka hanya membuat perhiasan pengantin. Berbeda dengan apa yang dikerjakan Sarmin, pembuatan perhiasan pengantin itu harus dilakukan perempuan.

Sarmin dan perajin kuningan tradisional patut diapresiasi. Mereka tidak saja berbisnis, tetapi juga melestarikan seni perabot atau perhiasan yang telah digunakan sejak zaman Kerajaan Buton.
Diposkan oleh JAMBI EKSPRES

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

MYSTERI SEX