Minggu, 26 September 2010

CARA MENDAPATKAN KREDIT DARI BANK DAN PERSYARATAN NYA

Kiat-kiat mendapatkan pinjaman kredit dari Bank, sebagai daya dongkrak bisnis yang sedang berkembang

Akhir-akhir ini Bank semakin tertarik untuk membiayai atau memberi pinjaman kredit kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Oleh karena itu, beberapa Bank telah menyediakan skema pinjaman kredit yang ditujukan khusus untuk UMKM. Apa kiat-kiatnya agar Bank tertarik membiayai bisnis kita?

Menurut penelitian Bank Indonesia, sebagian besar UMKM di Indonesia berkinerja bagus. Dari 11.000 unit usaha sampel yang diteliti dan tersebar pada sebelas wilayah, menunjukkan 84,4% mencatat laba usaha diatas 10%. Dari 11.000 unit usaha tersebut, 35% memiliki profit margin lebih dari 35%. Dari sampel BI ini menunjukkan kesimpulan berbeda dari pandangan orang pada umumnya bahwa usaha UMKM itu ringkih dan berkinerja buruk.

Hasil penelitian Bank Indoensia sebagai otoritas moneter biasanya menjadi acuan pihak perbankan dalam mengucurkan kredit pinjaman kepada dunia usaha. Apalagi jika UMKM tersebut sehat, baik dari segi manajemen, arus cashflow/ neraca keuangan dan asset.

Kepala bidang ekonomi dan moneter BI Bandung yang memaparkan hasil penelitian diatas, Hermawan B. Sasongko, mengatakan: “Selama ini telah terjadi kesenjangan antara besarnya pinjaman kredit untuk UMKM yang diharapkan dengan realisasi pinjaman oleh perbankan. Untuk itu, perlu ada sejenis jembatan antara UMKM dengan perbankan. Bukan hanya UMKM saja yang perlu bank-able, tetapi Bank juga perlu umkm-able“.

Hal ini tentu seperti angin segar bagi pengusaha UMKM. Karena penilaian Bank Indonesia terhadap kinerja UMKM akan mendorong dunia perbankan mengucurkan lebih banyak pinjaman kredit ke segmen UMKM. Namun demikian, penyaluran kredit ini harus di respon pengusaha UMKM dengan memnuhi persyaratan dari perbankan.

Namun demikian, ternyata banyak pengusaha UMKM yang bersikap psimis atau ragu-ragu mengajukan pinjaman kredit kepada Bank, padahal perputaran roda bisnis UMKM yang sedang berkembang memerlukan “darah segar” berupa suntikan dana, sedangkan akumulasi laba bulanan belum dapat mengcover kebutuhan roda bisnis yang haus akan dana tambahan. Dalam hal ini, kebutuhan dana itu bisa dipenuhi pihak Bank, dan tentunya dana tambahan ini sangat bermanfaat sebagai “daya donkrak” atau Laverege bisnis itu sendiri.

Masbukhin Pradhana, seorang Pengusaha UMKM sekaligus pembicara kewirausahawan, dan penulis buku “Karyawan Beromset Milyaran“, menyatakan: “Banyak diantara pelaku UMKM yang belum mengetahui secara mendalam produk-produk perbankan yang dikhususkan kepada UMKM. Mereka pada umumnya baru mau mendalaminya pada saat membutuhkannya. Sebagian besar yang baru mereka ketahui baru sebatas kredit konsumer, seperti Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), Kredit Kepemilikan Mobil (KPM) dan sejenisnya. Padahal banyak sekali pinjaman yang ditujuan kepada UMKM”.

Bila kita pelajari berbagai tawaran dari pinjaman kredit dari pihak Bank, ternyata banyak jenis pinjaman yang bisa dimanfaatkan pengusaha UMKM. Misalnya BRI, memiliki sekitar 12 produk pinjaman yang diawarkan khusus kepada UMKM. Seperti KUPEDES yang sangat melegenda dan sudah lama hadir dengan Plafon kredit Rp. 25.000,- sampai Rp. 25.000,- , juga ada pinjaman untuk investasi dengan sistem konsiyasi dengan plafon sampai Rp. 5 Milyar.

Demikian juga dengan Bank Bukopin, dimana jika dulu plafon pinjaman untuk UMKM hanya Rp. 2,5 Milyar, sudah di naikkan menjadi Rp. 10 Milyar. Ini menunjukkan Bank semakin tertarik menyalurkan kreditnya kepada sektor UKM. Beberapa bidang usaha UMK yang diminati pihak Bank antara lain : Perdagangan, telekomunikasi, pendidikan, kesehatan dan pembiayaan konsumen.

Saat ini, pihak Bank juga semakin proaktif mendekati sektor UKM. Bank Mandiri misalnya, beberapa waktu lalu menggarap pedagang pakaian Tanah Abang, juga Bank DKI yang memberikan pinjaman kredit kepada para pedagang di kawasan PD Pasar Jaya untuk membeli Hak Pemakaian Tempat Usaha (HPTU) di Pasar Jaya, dengan plafon kredit mencapai 80% dari total nilai HPTU yang dibeli. Dengan demikian, para pedagang yang tertarik hanya harus menyiapkan modal 20% untuk membeli tempat usaha yang ditawarkan. Sisanya sebanyak 80% berasal dari pinjaman kredit Bank DKI dengan waktu pengembalian cicilan antara 1 – 5 tahun dengan suku bunga yang dikenakan antara 14% – 16%.

Beberapa Bank lain juga semalin gencar menawarkan fasilitas kredit kepada pengusaha UMKM, contohnya Bank Himpunan Saudara 1906 yang memberikan pinjaman kredit untuk pengusaha UMKM yang ingin membeli Hak Waralaba. Maksimum jangka waktu pengembalian adalah 5 tahun dan plafon kredit sebesar Rp. 50 juta.

Selain beberapa Bank yang aktif mencari pengusaha UMKM yang layak mendapatkan pinjaman kredit, ada juga beberapa jenis pinjaman kredit yang dalam persyaratannya tidak memerlukan suatu agunan/ jaminan, pinjaman jenis ini dikenal sebagai Kredit Tanpa Agunan (KTA). Pada awalnya pinjaman kredit KTA ini ditujukan khusus untuk pembiayaan konsumsi. Namun kini telah semakin berkembang kegunaannya, yaitu bisa dimanfaatkan sebagai tambahan modal usaha.

Selain beberapa jenis pinjaman kredit seperti yang telah kita kenal selama ini, ternyata ada juga jenis pinjaman kredit yang cukup menarik, seperti pembiayaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang dikombinasikan dengan pinjaman untuk tambahan modal usaha.

Contohnya begini, jika kita membeli sebuah rumah dengan produk KPR, dimana kita mencicil rumah tersebut secara teratur, setelah cicilan kita berjalan beberapa tahun, tentunya nilai rumah yang kita beli dengan cara mencicil itu sudah lebih besar daripada saat cicilan pertama kali, hal ini selain berasal dari nilai total cicilan kita, juga faktor kenaikan harga property yang cepat. Nah, ternyata, rumah kita tersebut, walaupun belum lunas, bisa kita “sekolahkan” dulu, alias kita manfaatkan untuk mendapatkan tambahan modal usaha kita. Caranya dengan mengajukan permohonan KPR baru untuk rumah tersebut, jika di kabulkan Bank, tentunya nilai KPR yang kita peroleh pasti lebih besar. Sebagian dari nilai KPR tersebut bisa kita gunakan sebagai tambahan modal usaha.

Namun perlu diingat, hendaknya kita bijak dalam meminjam, jika memang roda bisnis kita berputar lancar, sebaiknya kita berutang ke Bank. Jangan meminjam ke Bank untuk digunakan membeli produk konsumsi, hal itu merupakan pemborosan, dan pada akhirnya hal itu akan membuat tekanan liabilitas kita semakin besar, karena ada beban bunga yang harus dibayar tiap bulan.

Walaupun bertebaran produk-produk pinjaman kredit dari pihak Bank, pengusaha UMKM perlu mempersiapkan diri dan mengenal terlebih dahulu jenis-jenis pinjaman kredit yang ditawarkan. Kebanyakan kita datang ke Bank saat kita “butuh” alias arus cashflow bisnis kita mulai tidak sehat, tentu saja kita sulit mendapatkan pinjaman, karena bagi Bank meminjamkan uang kepada pebisnis yang roda usahanya mulai macet adalah berisiko besar mengalami kemacetan dalam pengembalian cicilan, bahkan bisa jadi gagal bayar.

Beberapa kiat-kiat supaya bisnis yang kita jalankan diminati oleh Bank untuk dibiayai antara lain:

*

Pinjamlah uang ke Bank saat kita tidak membutuhkannya. Lho? kok? Bukannya beban bisnis kita akan bertembah berat dengan adanya bunga?. Banyak pengusaha UMKM yang mengajukan pinjaman ke Bank pada saat sangat membutuhkan suntikan dana. Hal ini merupakan sebuah kekeliruan. Menurut Donald Trump, pengusaha properti yang terkenal dari Amerika Serikat melalui buku karya George H. Ross, Trump Strategies for Real Estate, “seharusnya kita meminjam uang ke bank pada saat posisi keuangan kita kuat. Pada saat itu, kita akan dinilai berisiko rendah oleh Bank“.

Bagaimana dengan beban bunga? saat bisnis kita lancar, mengapa harus meminjam uang ke bank? perlu kah? Jika kita kaji lebih mendalam, dana segar dari Bank tersebut dapat kita manfaatkan sebagai ‘tambahan daya’ putaran bisnis kita, misalnya penambahan luas pabrik, atau pembelian mesin baru yang pada gilirannya akan menambah kapasitas produksi. Dan jika marketing kita handal dalam menjual hasil produksi, maka omzet dan laba kita akan bertambah. Dan tentunya beban bunga pinjaman bukan masalah lagi. Jadi pengajuan kredit kepada Bank saat kita tidak/ belum membutuhkannya bertujuan menjalin hubungan baik atau ‘koneksi’ dengan Bank.

Menurut Robert T. Kyosaki yang di kutip bapak Badroni Yuzirman, meminjam uang ke Bank saat tidak membutuhkan uang justru lebih mudah dibandingkan meminjam uang saat kesulitan keuangan, Mengapa? karena orang yang meminjam uang ke Bank saat tidak membutuhkan uang alias kondisi keuangan bisnisnya sehat, biasanya uang tersebut di pergunakan untuk pengembangan usaha dan sejenisnya. Artinya, roda bisnis sudah jalan dan berkembang, perusahaan seperti ini yang membuat ‘ngiler‘ Bank-Bank dan lembaga keuangan lainnya. Karena sudah jelas untung dan aman, Bank-Bank berebut untuk memberi pinjaman. Tetapi jika meminjam uang saat kepepet, biasanya Bank lebih waspada dan menghindari pengusaha yang seperti ini.

*

Referensi Peminjam Uang yang Kredibel. Jika anda mempunyai rekan yang sudah biasa meminjam uang dari Bank dan dianggap kredibel oleh Bank, anda harus mendapatkan Referensi dari rekan anda tersebut, dan pastikan juga jangan sampai mengecewakan rekan anda tersebut di kemudian hari.
*

Bergabung Dalam Kominitas Pengusaha dan Perbankan. Usahakan untuk masuk dalam jejaring pengusaha dan perbankan, dan didalamnya usahakan untuk semakin memperkenalkan usaha/ bisnis anda. Jika usaha anda semakin terkenal, hal ini akan membantu untuk meningkatkan rasa percaya pihak Bank kepada anda, dan itu terjadi jika anda berada dalam ‘radar‘ mereka.

*

Lakukan Publikasi. Misalnya dalam bentuk infotorial/ atau iklan diberbagai media cetak atau media internet, merupakan salah satu cara yang efektif untuk mendoring lembaga keuangan semakin mempercayai usaha anda. Informasikan setiap gerak bisnis anda kepada media. Misalnya, pembukaan outlet baru, cabang baru, peluncuran produk dll. Tentunya sesuaikan dengan budget biaya promosi yang tersedia. Hal-hal tersebut merupakan nilai plus di mata penyedia pinjaman kredit.
*

Ikuti Lomba / Award. Saat ini banyak diantara lomba atau Award yang ditujukan kepada pengusaha UMKM. Hal ini merupakan ajang untuk memperkenalkan usaha anda dan juga akan mampu menarik perhatian terhadap usaha yang anda jalankan. Pada gilirannya akan menambah kepercayaan pihak Bank untuk membiayai usaha anda.

Berikut ini adalah beberapa persyaratan umum yang harus di siapkan:


No & Dokumen Perorangan PT CV KOP
1. Surat Permohonan dan proposal usaha V V V V
2. Akte Pendirian - v v v
3. Akte Perubahan - V V V
4. Pengesahan - V - V
5. Pendaftaran di Pengadilan negeri - V V -
6. Pengumuman di LBNRI - V - -
7. KTP / SIM Pemohon V V V V
8. KK dan Surat Nikah V V V V
9. SIUP V V V V
10. NPWP V V V V
11. TDP V V V V
12. Surat Keterangan Domisili V V V V
13. Cash Collateral V V V V
14. Sertifikat /BPKB/ SIPTB V V V V
15. IMB dan PBB untuk jaminan sertifikat V V V V
16. Faktur dan 3 kwitansi kosong (utk BPKB) V V V V
17. Laporan Neraca 2 tahun V V V V
18. Laporan Rugi Laba 2 tahun V V V V
19. Copy Rekening Koran (minimal 3 bulan terakhir) V V V V
20. Surat Kontrak Kerja (SPK, PO dll) V V V V

Related posts:

1. Untung rugi kartu kredit yang menawarkan cash back
2. Meminjam uang ke bank, pertimbangkan dengan matang terlebih dahulu
3. Perbedaan sukubunga antara Lembaga pembiayaan dan bank
4. Lakukanlah lebih dari yang dibayar

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

This entry was posted on Thursday, January 17th, 2008 at 6:21 pm and is filed under Kredit. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
59 Responses to “Kiat-kiat mendapatkan pinjaman kredit dari Bank, sebagai daya dongkrak bisnis yang sedang berkembang”

1. WURYANANO Says:
January 17th, 2008 at 11:00 pm

Pada intinya yang bisa dapat pinjaman dari Bank adalah mereka yang mampu menunjukkan dengan lengkap persyaratan dokumen penting seperti di atas. Sering sebagian syarat itu belum bisa dipenuhi oleh UMKM.

UMKM, jika tidak butuh dana, memang mereka yaa nggak akan pinjam duit ke Bank. Sulit bagi UMKM untuk mengikuti saran Donald Trump itu, berbeda halnya dengan perusahaan kelas menengah besar.

Salam kenal,
Wuryanano
2. Partisimon Dot Com Says:
January 19th, 2008 at 11:06 pm

@ Pak Wuryanano –> wah surprise bangat bapak berkunjung ke blog saya, terima kasih banyak pak atas kunjungan dan komentarnya.

Padahal udah beberapa waktu ini saya mau cari alamat blog bapak, tapi gak ketemu-ketemu, soalnya dulu pernah ketemu blog bapak dan baca-baca artinya nya, karena isi blog bapak termasuk katagori “Blog pakar” pada bidangnya he…he…

Salam
3. yusuf Says:
January 22nd, 2008 at 3:06 am

trima kasih atas informasi ,mohon bila ada kami boleh tanya jawab dikarenakan kami adalah pengusaha mandiri modal yang tdk terlalu besar sehingga untuk rencana ekspansi pengembangan dan kami mencoba macam2 kegiatan usaha mohon kiat-kiat nya trima kasih
4. partisimon dot com Says:
January 23rd, 2008 at 3:11 pm

@ Yusup. Saya pribadi tidak menyarankan ekspansi untuk macam-macam jenis usaha pak. tertalu riskan. Fokuskan pada inti usaha bapak.

Jika bapak sangat paham berbisnis di bidang makanan, fokuskan di bidang itu. Bangun brand dan perkuat pemasaran.

Beberapa tahun waktu lalu, saya menonton talk show/ wawancara reporter sebuah televisi dengan pak Ciputra, Sang pengembang properti yang termasyur itu. Pada sesi tanya jawab telpon dengan pemirsa di seluruh nusantara, ada penelpon, kalau tidak salah dari Sulawesi, yang meminta pak Ci untuk berinvestasi di sektor pertambangan di sulawesi, karena peluangnya sangat bagus.

Apa jawaban pak Ci?

Pak Ciputra justru meminta maaf karena tidak bisa memenuhi harapan si penelfon. padahal kita tahu bahwa dari insdustri pertambangan-lah banyak milyuner-milyuner lahir. Ini industri adalah industri ‘basah ….’

Apa yang di katakan pak Ci selanjutnya adalah, bahwa beliau mengerti benar seluk beluk di bidang properti, tapi tidak di bidang lain. Kalau mau masuk industri pertambangan, berarti harus belajar lebih dahulu dari nol.

Karena kalau kita coba membuka usaha baru, itu seperti membuka “front perang baru”, dimana membutuhkan sumberdaya manusia dan dana yang besar.

Fokuskan pada bidang usaha yang masih bertalian, misalnya usaha jual voucher, masih nyambung dengan usaha isi ringtone dan cetak foto digital dari handphone, juga masih nyambung dengan jualan asesoris hp atau jual beli hp second.

sukses selalu pak Yusup.

Salam Jabat Erat

Partisimon Dot Com
5. DENI MUHDIAWAN Says:
January 26th, 2008 at 5:52 pm

saya memiliki usaha selama 7 tahun, dari modal yang sangat minim tapi dapat bertahan sampai sekarang. Saya mempekerjakan 20 orang tenaga kendalanya saya tidak memiliki tempat sendiri alias ngontrak. selama 7 tahun saya sudah 4 kali pindah lokasi. Kebetulan usaha saya masuk pada bidang industri komponen. saya ingin punya tempat usaha sendiri bank mana atau pemerintah mana yang bisa bantu saya ? karena sampai saat ini program pinjaman untuk UKM hanya retorika saja !
6. santo Says:
February 22nd, 2008 at 10:01 am

saya punya warnet yg sdng berkembang.dan mempunyai usaha koperasi untuk pedagang2 kecil,saya sedang kekurangan dana,untuk memperluas jaringan.bisakah saya meminjam uang kepada bank.mohon tanggapan bapak
7. Dhony Says:
March 23rd, 2008 at 8:52 am

Saya berkecimpung didunia internet lebih kurang 4 tahun, saya berniat membuka usaha warnet sendiri. Saya pernah ditawarin seseorang yang katanya bisa memberikan jalan pinjaman ke bank akan tetapi sampai sekarang belum terealisasi. Pertanyaan saya
1. apakah bisa saya mendapatkan pinjaman yang bukan untuk perluasan usaha tetapi untuk mendirikan usaha ?
2. berdasarkan persyaratan umum diatas, saya masih bujang alias belum laku bin belum menikah apakah tidak bisa mendapatkan pinjaman dana tersebut ?
3. Kira – kira untuk kasus saya tadi dimana yah kira kira saya bisa mendapatkan pinjaman modal untuk mendirikan usaha ?
4. apabila membutuhkan proposal, bagaimana bentuk proposal tersebut? sukur2 ada yang mau kasih contoh.

demikian pertanyaan saya, saya mohon perhatian dan petunjuknya. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih
8. partisimon dot com Says:
March 23rd, 2008 at 5:23 pm

@Dhony.
1. Saya sarankan transparan dalam mengajukan pinjamanm tapi biasanya kalau baru mendirikan usaha agak susah disetujui, karena menurut pandangan Bank usaha yang baru akan dirintis masih berisiko gagal, dan akibatnya gagal bayar.
2. Lampirkan KK keluarga
3. ? ???? ……….. saya sarankan bangun bisnis anda dari kecil terlebih dahulu, putar arus cashflow nya dan kumpulkan aset. Untuk warnet mungkin bisa 5 Pc aja dulu, modalnya bisa dari pinjaman ke keluarga atau ajak teman patungan. cuma manfaatkan semua komputer secara optimal, selain utk jasa internet ria, juga bisa untuk games, jasa ketik, jasa print, scan dan jual cemilan
4. Nanti kalau ada contohnya, akan saya tambahkan di footer artikel ini

Trims
9. IBNU HIKAM Says:
April 6th, 2008 at 4:05 pm

Assalam,Saya mau bertanya:
1.Saya punya usaha warnet,rental PS2 dan Cellular sdh berjalan 2 Tahun,…
Gimana cara pinjam yang baik???
2. Apa saya sdh termasuk??? pengusaha yg bisa di pinjam kan oleh bank????
3.Saya kebetulan seorang CPNS ??? belum PNS??? gimana ??? bisa ga usaha saya belum memiliki ijin,baru ijin RT,Kelurahan dan kecamatan??? apa Bisa sedangkan saya,sedang kredit/masih dalam perjanjian kredit di bank Mandiri sdh berjalan 6 bulan,..apa saya bisa pinjam lagi modal untuk pengembangan usaha saya ini???? karena modal pinjam yang pertama kurang mencukupi dari nilai yang saya harapkan(saya platfon kan),saya berniat pinjam 100jt,buat baget pengembangan uasaha saya ini,… apa bisa??? saya ada sertifikat rumah miliki mertua yang mau saya anggun kan???
Maksih,,…Wasalam
10. partisimon dot com Says:
April 6th, 2008 at 5:31 pm

Wah salut pak Ibnu Hikam seorang CPNS tetapi sudah punya usaha macam-macam. Luar biasa …

Memang dalam perjalanan usaha seringkali menghadapi tantangan seperti kurang modal yang di harapkan, padahal menurut pemikiran kita, seandainya modalnya sekian, tentu akan meningkarkan omzet dan pada akhirnya mudah untuk mencicil angsuran.

Apalagi meminjam uang ke Bank memang agak sulit jika persyaratannya kurang. Untuk apa yang bapak alami, saya justru menyarankan bapak untuk menahan nafsu “ekspansi” terlebih dahulu, karena sekarang ini ekonomi kita masuk masa-masa sulit, dimana BBM naik dan berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat secara umum.

Ini saya cerita dikit, Teman saya, tahun 2007 menyewa 3 toko untuk jualan pakaian muslim, tetapi maret 2008 kemarin 2 tokonya di tutup, dan semua stok barang di “relokasi” ke 1 toko yang paling ramai. Jadi sekarang, dia hanya menyewa 1 toko saja. Memang ini keputusan rumit, tapi apa mau dikata, mau pindah cari lokasi baru juga berisiko, karena memang daya beli menurun.

Jadinya teman saya itu sekarang “wait and see …”

Untuk 3 usaha bapak, mungkin harus di optimalkan lagi omzetnya, apa-apa yang perlu diperbaiki supaya tambah ramai pengunjungnya. Untuk warnet jangan sampai sering “not time request…” dari provider yang membuat sebal pengunjung.

Jangan lupa bikin kantin kecil di dalam warnet, pinjam kulkas pendingin dari teh botol sosro, jual minuman dingin, juga jual snack dll. Di warnet yang sering saya kunjungi, biaya per jam 2.000, ada 100 PC, mereka buka 24 jam, dan kalau saya datang jam 8 malam, musti antri. kalau datang jam 10 malam biasanya langsung dapat tempat. Luar biasa …ramainya …tapi banyakan main game …. dan mereka ada kantin kecil (mini bar) …jual macam-macam, kopi, indomie-telor, juice buah, kwetiaw, bihun kuah, bahkan ada menu makanan yang harganya 10ribuan keatas …waduh …saya pikir pasti untung nya banyak dari jualan makanan aja. Walau biaya per jam 2.000, mereka pakai layar monitor yang LCD, akses internet kencang bangat (tapi disetting tidak dapat download). Karena murah dan berkualitas, makanan tersedia, ada toilet, jadinya warnet tersebut ramai sekali pengunjungnya.

Intinya, bisnis yang sudah berjalan ini bapak “manage” kembali sebaik-baiknya, dan jangan sampai ada uang yang “bocor” ….

Selain itu, yang musti di ingat, bahwa semakin tinggi pinjaman, berarti semakin tinggi liabilitas jika omzet ternyata tidak terdongkrak juga walau sudah di suntik dengan dana tambahan.

Saya tidak menyarankan bapak meminjam uang lagi saat terikat kredit dengan bank mandiri. Lebih baik bapak fokus lunasi secepatnya dan tepat tanggalnya setiap bulan ke Bank mandiri tersebut, setelah lunas, berarti bapak mendapatkan 1 poin plus dimana bank mandiri, dan bank akan semakin percaya dengan bapak dan pasti berani memberikan flafon yang lebih besar, karena dianggap kredibel.

selain itu, kalau persyaratan administrasi kurang biasanya agak susah. Coa datangi Bank BRI, biasanya ada “paket kredit” yang persyaratannya gak rumit, tapi bisanya plafonnya kecil. Dan kalau 50 juta ke atas, biasanya pakai NPWP ….apalagi 100 juta …

Selain itu, kalau dana bisa di dapat pun, kalau gak segera diputar, tekanan finansialnya sangat besar untuk keuangan bapak, karena dalam waktu bersamaan ada kewajiban cicilan di bank sebelumnya yang belum lunas.

Alternatif lain, mungkin bisa cari “investor” atau rekanan yang mau suntik modal …dan jangan lupa “hitam diatas putih” biar sama-sama enak …

Oh ya untuk bisnis cellularnya, sepertinya bisnis “HP second” lebih untung dari jualan voucher …, tapi kalau bisa jual semua item juga bagus.

Salam Jabat Erat

Partisimon Dot Com
11. Muhammad Taufiq Says:
April 11th, 2008 at 8:50 am

Salam Hormat,
Pak, saat ini saya punyak masalah yang mungkin rumit saya selesaikan karena sudah terlanjur.
Gini pak, saya hanya karyawan biasa dengan penghasilan 4,000,000/bulan, kalau tidak ada pinjaman dengan jumlah ini juga bagi kami sudah cukup, tapi masalahnya semua gaji tersebut habis untuk bayar utang sana sini termasuk kepada kartu kredit, bahkan tidak cukup dan terpaksa nombok, itu belum termasuk kebutuhan anak, dll. Dan saya juga punya usaha di rumah yaitu jual kelontongan dan yang mengelola istri saya, omset perharinya berkisar 600 ribu – 800,000. dan pada saat saya mulai membuka warung tersebut saya pinjam modal ke saudara istri saya dan pergunakan kartu kredit untuk belanja (katanya sih..dibayar pada ada tagihan, jadi nggak ada bunga) tapi ternyata nggak ketutup. Dan ini juga merupakan kecerobohan saya dalam penggunaan kartu kredit (punyak 4). dan saat ini sudah mempunyai utang Rp. 40 juta
begini pak, saya ingin melunasi utang saya dengan meminjam ke Bank/Koperasi dengan dasar pemikiran bahwa utang saya cuma 1 pintu, jadi pinjam sekitar 40 juta dengan jangka waktu 3 tahun sehingga cicilan perbulannya bisa lebih sedikit dari pada harus membayar cicilan dari mana-mana tersebut sekaligus dan rencananya akan langsung melunasi hutang-hutang tersebut.
Bagaimana menurut Bapak, apakah ini efektif atau apakah ada saran untuk dapat melunasi hutang-hutang tersebut.

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.
12. partisimon Says:
April 13th, 2008 at 4:08 pm

Sebenarnya, jumlah income bapak perbulan sekitar 4.000.000/ bulan lumayan besar, apalagi jika ditambah jualan barang kelontongan dirumah dengan omzet minimal 600.000 perhari, saya perkirakan margin barang kelontongan rata2 sekitar 10%, jadi ada untung kotor sekitar 60.000 / hari. Kalau sebulan, sekitar 1,8 juta untung kotor dari Toko kelontong ini, katakan biaya operasionalnya sekitar 300.000 (asumsi karena tidak menyewa), jadi total keuntungan bersih sekitar 1.500.000,- wah ini sangat bagus …..

Jadi total income anda perbulan adalah:
——————————————————–
Gaji anda = 4.000.000,-
Income warung = 1.500.000,-

Total = 5.500.000,-

wah ini suatu jumlah yang lumayan saat ini pak, apalagi kalau mengingat banyak orang lain harus antri membeli 2 liter minyak tanah.:)

Cuma kalau berhubung liabilitas bapak yang lumayan besar “dalam waktu bersamaan”, sehingga tiap bulan malah tekorrr…

Pak Taufiq, dalam situasi seperti ini saya justru tidak menyarankan anda “menambah Utang” terlebih dahulu, karena ini justru berbahaya bagi finansial anda. Langkah menambah utang ini seperti “melemparkan masalah kemasa depan” dan seakan anda dan keluarga tidak mau saat ini “bersusah-susah” karena menanggung kesulitan. Biasanya, jika menambah utang, dimasa depan masalah fianansial ini semakin membesar karena adanya faktor “bunga”, dan yang perlu dingat dan disadari oleh anda dan istri, jangan sampai masalah finansial ini mengganggu keharmonisan keluarga, apalagi merembet ke anak.

Tetapi kalau memang tidak ada solusi terbaik, mungkin meminjam uang ke Bank atau koperasi merupakan solusi terbaik. Asalkan persyaratan lengkap dan ada agunan. Kalau bapak punya mobil, mungkin BPKB-nya bisa sebagai agunan, jadi mobilnya masih bisa dipakai untuk operasional sehari-hari. Tapi kalau pinjam ke pegadaian gak bisa, soalnya biasanya jaminannya ditahan pihak pegadaian.

Kalau tidak ada mobil, mungkin agunan rumah berupa sertifikat rumah. Cuma memang dalam proses persetujuannya, kadang mudah kadang susah. Tetapi kalau pihak bank melihat slip gaji bapak, saya rasa merupakan pertimbangan plus untuk lolosnya pinjaman, apalagi ada agunan rumah atau tanah yang representatif.

Oh ya, saya pernah mendengar ada kartu kredit yang menawarkan fasilitas pindah kartu dari banyak kartu kredit ke satu kartu kredit saja. Kalau gak salah ini ditujukan untuk nasabah kartu kredit yang terjebak oleh banyaknya tagihan dalam waktu bersamaan. Coba tanyakan kepada ke -4 kartu kredit yang bapak pakai, apakah ada dianatara mereka yang menawarkan fasilitas semacam ini dan apakah bisa semua tagihan ditujukan ke satu kartu kredit saja. kalau tidak salah dengar, dalam proses pemindahan tagihan ini ada sedikit biaya.

Kalau bisa, ini sangat menguntungkan, karena tagihan cuman ” 1 pintu” dan cicilan jadi tidak memberatkan, walaupun waktu pembayaran jadi lebih lama. Coba dech bapak tanyakan ke rekan-rekan bapak, siapa tau ada yang pernah punya pengalaman atau rekomendasi.

Ini sedikit cerita:

Teman saya, owner : tanah-abang.net dulunya juga punya beberapa kartu kredit, tetapi sekarang disisakan 1 , yang Gold dari Citybank, karena katanya bikin liabilitas semakin besar.

Oh ya, coba catat sektor-sektor pengeluaran bapak saat ini, kira-kira mana yang harus dikurangi. Yang, sedikit ‘menderita’ lah gitu pak ….sampai utang kelar. Selama proses pelunasan utang, jangan dulu membeli barang-barang yang membuat uang mengalir seperti air dari kran. Misalnya membeli produk-produk elektronik, sofa, dll. kalau ada barang yang rusak, usahakan diservice saja. Semuanya ini dilakukan demi pengurangan liabilitas.

Yang jelas bisnis kelontongan harus tetap maju jangan sampai mundur. Saya lihat, keputusan membuka warung kelontong ini merupakan keputusan yang sangat jitu. Walau saat-saat awal terasa berat, tapi ini sebenarnya merupakan ases bapak yang sangat berharga, terutama untuk jangka panjang. Sekalian untuk jaga-jaga kalau sumber income utama macet.

Untuk tempat berbelanja barang, belanja barang di agen harus bawel dan mencari produk dengan harga termurah, kalau lagi diskon di carrefour, jangan segan untuk borong, lebih banyak stok barang yang laris manis. Harus benar2 hati-hati dalam pengelolaan toko kelontong, cermat dan teliti dalam pengeluaran uang. kalau bisa berfikirlah sebanyak 10 x kalau urusannya mau ngeluarin duit dari kantong …..

Setelah kelar nantinya dengan cicilan kartu kreditnya, kalau bisa bapak menginvestasikan 30% dari gaji bapak untuk investasi, misalnya membeli emas atau investasikan di toko kelontong (menambah barang, memperbesar space warung dll). Saya tidak menganjurkan bapak menyimpan uang di bank / deposito, karena bunga yang kita dapat per tahun lebih kecil dari tingkat inflasi. Artinya uang kita tergerus oleh inflasi. Banyangkan aja, beberapa bulan lalu, harga minyak tanah sekitar 3.000 liter, kok sekarang jadi 7.000/ liter? kenaikan BMM ini menyebabkan harga-harga barga barnag lain ikut naik. Belum lagi kenaikan harga barang yang disebabkan oleh faktor alam seperti kenaikan gandum–> bahan baku tepung terigu, kedelai dll.

Jadi kenaikan-kenaikan harga ini menyebabkan uang yang kita simpan di bank atau uang “nganggur” nilainya menjadi kecil. Sebagai contoh: Jika tahun lalu, dengan uang 1 juta bisa membeli 2.000 nasi bungkus, sekarang mungkin uang senilai 1 juta hanya bisa membeli 700 nasi bungkus. Itu berarti nilai uang kita telah berkurang. Tepat sekali himbauan pemerintah RRC yang mengimbau warganya jangan menabung atau menyimpan uang, tapi harus bisa memutar uang tersebut. Kalau saya pikir2 lagi, ternyata kebijakan Pemerintah RRC itu memang sangat bagus, jadi rakyatnya tidak kehilangan nilai kekayaannya, karena uangnya tidak disimpan, tetapi disuruh “bekerja”

Wah, kommen saya jadi kepanjangan nich …kalau ada rekan netter yang mau menambahkan, atau mengoreksi, monggo bangat, sharing infonya disini, dan siapa tau ada rekan pebisis lain yang bisa bantu permasalahan pak Taufiq ini.

salam jabat erat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MYSTERI SEX