Senin, 01 November 2010

LTE, RVOLUSI YANG MENJANJIKAN

WALIKOTA SUNGAI PENUH


Solusi video dari LTE, video streaming atau broadcasting, terutama streaming HDTV dalam pameran di Barcelona, Spanyol, pada 2008.
 Setidaknya sudah tiga operator seluler besar di negeri ini yang telah membidik jaringan long term evolution. Sebuah jaringan berkapasitas besar dan berkecepatan tinggi yang menjadi cikal bakal jaringan radio generasi ke-4 atau 4G.

Selain Telkomsel, setidaknya XL Axiata dan Indosat juga telah melakukan persiapan untuk bergerak ke arah sana. Memang bukan revolutif, tetapi mereka dapat melakukannya secara evolutif dengan menaikkan kapasitas jaringan yang mereka miliki saat ini.

Evolusi ini menarik karena bukan hanya bisa dilakukan pada jaringan GSM, melainkan juga pada jaringan CDMA yang selama ini terkesan bagai dua kubu berbeda. Memang, untuk menuju ke long term evolution (LTE), bukan hanya infrastruktur yang harus disempurnakan, tetapi juga kesiapan terminal atau perangkat bergerak yang akan menggunakannya.

Meski tumpuan yang terlalu besar pada LTE bisa mengurangi kenyamanan pemakainya, harapan terhadap jaringan seluler dengan LTE menjadi sangat besar. Apalagi mengingat teknologi pita lebar pesaingnya, yaitu WiMAX, masih tertatih-tatih pelaksanaannya dan WiFi yang kurang berkembang.

Saat ini banyak aplikasi berat yang tidak bisa atau sulit dijalankan melalui jaringan seluler. Sebut saja seperti video HD streaming, game online, upload foto dan video dengan kecepatan tinggi juga akan mengurangi kepadatan di base transceiver station (BTS) dan melahirkan banyak solusi baru.

Langkah evolutif juga diambil Indosat dengan merealisasikan jaringan DC-HSPA+ terlebih dahulu sebelum melangkah ke LTE. Apalagi mengingat kecepatan jaringan DC-HSPA+ yang mencapai 42 Megabit per detik (Mbps) ini pun belum ada perangkat yang bisa memanfaatkan sepenuhnya.

”Melalui modernisasi jaringan ini, kami juga turut mendukung penciptaan green telco karena mampu mengurangi penggunaan daya listrik serta lebih ramah lingkungan. Hal ini tentunya juga akan menciptakan efisiensi bagi perusahaan,” papar Harry Sasongko, Presiden Direktur & CEO Indosat dalam acara peluncuran produk itu, pekan lalu.

Akses internet DC-HSPA+ 42 Mbps sejak seminggu lalu awalnya baru melayani kawasan Jakarta Pusat, implementasi ini diklaim sebagai yang pertama di Asia dan kedua di dunia. Jaringan ini merupakan penyempurnaan dari jaringan HSPA+ berkecepatan downlink hingga 21 Mbps dan kecepatan uplink 5,8 Mbps.

Kecepatan tinggi
Pihak Indosat melihat modernisasi jaringan ini memiliki banyak keuntungan, terutama efisiensi biaya operasional berupa penghematan pemakaian daya listrik sampai 50 persen dan efisiensi kebutuhan ruangan hingga 67 persen. Hal ini merupakan salah satu upaya mendukung penciptaan green telco di industri telekomunikasi, selain penggunaan energi alternatif pada BTS.

Kesepakatan dengan pihak Ericsson pada pekan lalu itu meliputi berbagai teknologi tercanggih, seperti perangkat radio dengan kemampuan multi standard radio yang memungkinkan satu kabinet radio base station untuk memancarkan sinyal multiteknologi (GSM, WCDMA, LTE). Langkah evolutif ini juga akan membuat mudah untuk kemudian merealisasikan layanan LTE.

”Untuk melangkah ke LTE, pertama harus meng-upgrade core network menjadi LTE ready (full IP network) mulai dari sisi hingga backbone. Kedua, upgrade access network di level base station yang saat ini sudah berbasis software (software defined radio) guna fleksibilitas upgrading evolusi teknologinya mulai dari GPRS, EDGE, 3G, HSDPA, HSUPA, HSPA, HSPA+ release 7, 8 ..hingga nanti ke LTE,” papar Teguh Prasetya, Group Head VAS Marketing Indosat.

Menyangkut alokasi frekuensi, Teguh menyarankan melakukan refarming (menggunakan kembali) alokasi yang sudah dimiliki operator sehingga bisa sangat membantu, misalnya pada pita frekuensi 900, 1800, ataupun 2100 MHz. ”Dengan refarming, risikonya memang harus melakukan penataan kembali existing player,” tutur Teguh.

Untuk dapat ideal, penggelaran jaringan 3.9G ini memang memerlukan pita frekuensi selebar 20 MHz. Namun, yang menarik, teknologi ini secara fleksibel bisa diiris hingga 1,4 MHz. Hal ini sangat berbeda dengan 3G ataupun CDMA2000 yang mensyaratkan penggunaan pita frekuensi 5 MHz.

Selain efisiensi spektrum frekuensi, juga latency (jeda yang muncul karena komponen elektronis) yang rendah menjadi daya tarik. Kecepatan downlink rata-rata 100 Mbps untuk mobile dan 1 Gbps untuk nomadic, uplink setidaknya 50 Mbps. Meski demikian, berdasarkan persyaratan IMT-Advanced, hal ini belum bisa dikategorikan sebagai 4G, barangkali penyempurnaannya nanti pada LTE Advanced.

KETIKA BANYAK ORANG BERALIH DARI BLACKBERRY KE iPHONE

WALIKOTA SUNGAI PENUH

Model memeragakan iPhone 3GS.

Alih-alih memperketat keamanan data dan bisnis perusahaan, Standard Chartered Bank di Singapura mengganti penggunaan BlackBerry oleh karyawannya ke iPhone, telepon pintar buatan Apple Inc. Bahkan, bank internasional ini rela memberikan kompensasi berupa subsidi pembayaran tagihan bulanan iPhone kepada para karyawan yang mau meninggalkan BlackBerry miliknya. Fenomena serupa terjadi di beberapa negara Asia. Apakah pasar BlackBerry akan tergerus?

Sulit dipungkiri, pesatnya kemajuan teknologi perangkat telepon pintar (smartphone) turut menopang kesiatan bisnis, termasuk di industri perbankan. Maklum, kecanggihan smartphone sangat menolong para bankir semakin mudah mengakses internet atau surat elektronik ketika berada di luar kantor.

Dengan dalih tersebut, muncul fenomena sejumlah bank papan atas dunia menentukan kebijakan standar komunikasi dan bisnis yang cocok antarkaryawannya. Salah satunya, menetapkan perangkat ponsel pintar yang tepat digunakan seluruh karyawannya. Misalnya, Standard Chartered Bank di Singapura. Baru-baru ini, bank asal Inggris tersebut berencana mengganti smartphone standar komunikasi antarkaryawan untuk urusan kerja dari BlackBerry menjadi iPhone, produk buatan Apple Inc., Amerika Serikat (AS).

Padahal, selama ini, BlackBerry yang merupakan ponsel buatan Research In Motion Ltd (RIM), Kanada, telah menjadi perangkat standar komunikasi dan bisnis di Standard Chartered.
Mengutip pernyataan para bankir di bank itu kepada kantor berita Reuters, Standard Chartered memberikan opsi kepada para karyawan yang menggunakan BlackBerry untuk beralih ke iPhone.

Jika semakin banyak perusahaan beralih ke iPhone, ini kabar buruk bagi RIM. Perusahaan itu akan memberikan kompensasi berupa subsidi pembayaran tagihan bulanan untuk fasilitas telepon dan data, yang berkaitan dengan pekerjaan. Tawaran ini hanya berlaku kepada karyawan yang mau menggunakan iPhone. "Ini adalah prakarsa kami menuju pelayanan perbankan secara global," kata juru bicara Standard Chartered, yang tak mau disebutkan namanya.

Beberapa bank internasional lainnya, seperti HSBC Holding Plc. dan Morgan Stanley malah melarang penggunaan BlackBerry sebagal perangkat standar komunikasi bisnis perusahaannya. Alasannya, menurut para ahli di bidang keuangan dan analis teknologi informasi, faktor keamanan data tak terjamin.

Para pengamat juga menyoroti persaingan produk smartphone tersebut. "Jika semakin banyak perusahaan beralih ke iPhone, ini adalah kabar buruk bagi RIM," kata Lu Chialin, analis industri teknologi informasi di Macquarie Securities, Taipei. Lu Chialin menambahkan, peralihan alat komunikasi itu membutuhkan waktu lantaran perusahaan perlu menguji coba terlebih dahulu perangkat itu. "Butuh waktu lama untuk melakukan pengujian internal di lingkungan sendiri, sebelum mengambil keputusan mengganti perangkatnya," katanya.

Peralihan minat dari BlackBerry ke iPhone juga disadari manajemen RIM. "Orang selalu melakukan peralihan, dan saya melihat ada juga mereka yang beralih ke BlackBerry," kata Gregory Shea, Direktur RIM untuk wilayah pemasaran China.

Menurut Shea, kondisi itu dipicu oleh dinamisnya permintaan pasar smartphone. "Banyak sekali vendor yang menjual produk serupa, misalnya operator selular dan perusahaan pembuat aplikasi peranti lunak," katanya.

Toh, hingga kini pangsa pasar smartphone RIM tidak tergerus oleh iPhone. Menurut perusahaan riset iSuppli di California, AS, pangsa pangsa RIM naik menjadi 3,6 persen, dan di atas Apple yang hanya 3,04 persen selama kuartal I 2010.